Sunday, April 12, 2015

hopeless love (part 1)

            “Deeerrrt.. derrrrt.. “ getar suara hanphone bututku. Sepertinya ada sebuah pesan. Aku segera mengeluarkan handphone ku dari tas ku dengan harapan itu sebuah pesan dari nya . iya dari nya orang yang dulu pernah dekat dengan ku. Tapi harapan ku hanya sekedar harapan dan angan-angan ku saja. iya ini terjadi saat kami bertengkar hebat. Tak ada satu pun dari kami yang mencoba memeberi kan kabar seperti dulu. Hingga aku sangat berharap kabar dari nya saat kangen ku klimaks kepadanya.  Yah memang ini salah ku, yang terlalu ego dan mau menang sendiri.  Pada saat itu aku bener-bener kangen pada nya. Kangen saat- saat bersamanya , yang dulu hampir setiap detik tak pernah melewatkan moment-moment kami meskipun hanya sekedar pesan bahkan suara dari nya melalui telepon seluler ku. Aku mencoba untuk memulai perpesanan singkat untuknya, sekedar menanyakan kabar nya. Karena aku tau, aku bukan tipe orang yang mudah jauh dengan orang yang mungkin pernah berkesan bagi ku. Aku tak pernah lepas dari handphone ku. Sejam berlalu tanpa ada balasan, membuat ku bosan dan jenuh. Akhirnya tak lama dari kejenuhan ku, dering pesan pun berbunyi yang sengaja aku aktifkan profil deringnya agar tidak terlewat harapan ku. Apa itu balasan dari ya ? .... (to be continued). 

Friday, April 3, 2015

TER-UNTUK MU (dekat fisik jauh hati)

Kapan kita main bareng lagi, kapan ?
Kapan kita bersama lagi, kapan ?
Kapan kita kaya dulu lagi, kapan ?
Kapan aku bisa tuntun kamu lagi seperti dulu, kapan ?
Kapan kamu bisa tuntun aku dan melindungi ku, kapan ?
Kapan kamu ajak aku main dengan teman-temanmu dulu, kapan ?
Kapan kamu sakit aku juga sakit, kapan ?
Kapan kita bisa ngobrol layaknya saudara, kapan ?
Kapan kita saling menyapa satu sama lain, kapan ?
Kapan kita bisa foto bareng seperti pada saat kita bayi terus meranjak ke masa anak-anak, kapan ?
Kapan kita bisa bahagian bersama orang-orang yang selalu bahagian kita, kapan ?
Kapan kita bisa lagi duduk sejajar bahkan berhadapan, kapan ?
Kapan semua yang aku rindukan dan inginkan terjadi seperti dulu lagi ? apa mesti orang-orang yang kita sayang pergi mendahului kita, baru kita bisa akur ? 
Kenapa ego kita besar ? Kenapa kita seperti ini ? Apa yang menyebabkan kita seperti ini ? saling iri ? iya saling iri..
Pengen rasanya saat wisudanya ada aku. begitu juga dengan ku, saat wisuda nanti pengen rasanya ada dirinya. kita dekat namun hati kita yang jauh.
Percayalah ini lebih kejam dari suatu kenyataan.